Mengenal 3 hotel besar di Buitenzorg

Dulu ketika masih bernama Buitenzorg, ada tiga hotel besar yang cukup terkenal kala itu yaitu : Hotel Bellevue, Hotel du Chemin de fer dan Hotel Dibbets. Para petinggi dan pejabat penting jaman kolonial Belanda yang tinggal di batavia dan kota-kota lain diluar Buitenzorg atau turis-turis asing yang sedang menikmati keindahan kota yang tanpa kesusahan ini sering menginap di ketiga hotel tersebut.


Hotel du Chemin de Fer

Hotel Bellevue

Hotel Dibbets

Jarak hotel-hotel itu dari Kebun Raya hanya sepelemparan batu, kecuali Hotel du Chemin yang lokasinya agak ke barat dan dekat dengan Stasiun Buitenzorg.  

Hotel du Chemin de Fer, sebelah kanan adalah yang sekarang menjadi taman topi

Mungkin dulu sengaja dibangun di situ untuk menyasar para pelancong yang tiba dari Batavia dengan menumpang kereta api.

Dalam buku “Guide through Netherlands India” yang diterbitkan tahun 1903 disebutkan:

Jika berangkat dengan kereta ekspres ke Buitenzorg, kita akan sampai di kota kediaman Gubernur Jenderal itu (263 meter di atas permukaan laut) lebih awal agar dapat menghirup udara sejuk yang berasal dari Gunung Gede dan Salak.


Pemandangan belakang hotel bellevue

Lahan bekas bangunan hotel bellevue yang menjadi BTM

Kita bisa menginap di Hotel du Chemin de Fer, dekat stasiun, atau di Hotel Bellevue yang jaraknya hanya lima menit dari persimpangan jalan utama. Dari belakang hotel ini kita dapat menikmati pemandangan lembah Tjiliwong dan lereng Salak. Omnibus dari hotel-hotel ini biasanya sudah menunggu kita di depan stasiun.

Seperti halnya Hotel Bellevue yang kini bangunannya sudah hilang ditelan jaman dan berganti menjadi Gedung megah BTM ( Bogor Trade Mall ) sebelumnya pasar dan bioskop Ramayana, hotel-hotel lainpun mengikuti jejaknya yaitu Hotel du Chemin de fer yang kin beralih fungsi menjadi kantor Mapolwil Bogor, tinggal satu hotel yang tersisa dan masih difungsikan sebagai hotel yaitu Hotel Dibbets yang kini menjadi Hotel Salak.


Hotel Salak