Jalan Ardio, bagi sebagian masyarakat di wilayah Jalan Ardio,
Kelurahan Cibogor, Bogor Tengah, adalah jalan sempit yang banyak
ditempati para Pedagang Kaki Lima (PKL) di bagian depannya. Siapa
sangka, ternyata Jalan Ardio menyimpan cerita sejarah yang kebanyakan
masyarakat belum mengetahuinya. Ya, Jalan Ardio pernah menjadi saksi
perjalanan Pahlawan wanita dari Aceh yaitu Cut Nyak Dien selama masa
pembuangan oleh Belanda.
Namun, keberadaannya di Banda Aceh justru menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Ia masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Akibatnya, Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang. Disinilah cerita sejarah keberadaan Cut Nyak Dien di Bogor dimulai, sebagaimana dipaparkan tokoh sejarah Bogor Eman Sulaeman.
Sebelum Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang, Cut Nyak Dien sempat
Singgah terlebih dahulu di Bogor tahun 1900an. Cut Nyak Dien sempat
mengajar ngaji di salah satu wilayah di Jalan Ardio. Tepatnya di Gang 3,
rumah ke tiga sebelah kanan jika masuk menelusuri jalan gang tersebut.
Cut Nyak Dien sendiri disebutkan meninggal pada tanggal 6 November 1908
dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.
Menurut Eman Sulaeman, cerita tentang keberadaan Cut Nyak Dien di Bogor tidak tercatat oleh sejarah Indonesia khususnya sejarah Bogor. Cerita mengenai Cut Nyak Dien yang sempat mengajar ngaji di Bogor ia dapatkan dari almarhum ibunya. Eman Sulaeman sendiri mendapat cerita itu ketika dirinya remaja, bahwa ibunya sempat ikut mengaji di Jalan Ardio, Gang 3 dan yang mengajar itu adalah Cut Nyak Dien.
“Ibu pak Eman suka ikut ngaji di gang tiga, kalau dulu namanya jalan Paraleluet,” ujarnya saat ditemui kotahujan.com, Selasa (17/01).
Di Bogor tercatat banyak para pahlawan yang dibuang karena menentang
Belanda, lanjut Eman. Tidak hanya Cut Nyak Dien, Raja Bone dan Raja dari
Banten juga sempat merasakan pengasingan di Bogor. Cerita sejarah Cut
Nyak Dien ini tak banyak diketahui masyarakat di Bogor karena kurangnya
rasa cinta terhadap sejarah.
“Karena kurang kecintaaanya pada sejarah sepertinya, makanya warga
Bogor tidak ada yang tau, hanya dari mulut kemulut,” tandas Eman.
Jalan Ardio sendiri terletak berdampingan dengan jalur kereta api
jurusan Bogor-Jakarta Kota. Jalannya memang tidak terlalu luas, sekitar 4
meter lebarnya. Dilihat dari bentuk bangunannya, ada beberapa rumah
yang masih memiliki beberapa arsitektur tempo dulu dengan daun jendela
yang khas. Sayangnya, warga sekitar belum banyak yang mengetahui jika
jalan Ardio adalah bagian dari saksi sejarah Indonesia. Seperti Aminah
(35) misalya, dirinya tidak mengetahui jika Cut Nyak Dien Pernah
diasingkan di Bogor dan sempat mengajar ngaji.
“Gak tau mas, mungkin orang-orang yang sudah tua yang tau, saya malah baru tau sekarang,” terangnya pada kotahujan.com.
Miris sekali tentunya, mengingat Cut Nyak Dien adalah seorang pahlawan Revolisioner yang cukup besar nama dan jasanya.
“Seharusnya kita lebih peduli lagi terhadap sejarah, masa kita kalah
sama orang barat, orang Eropa untuk penghormatan kepada nilai-nilai
sejarah,” pungkas Eman Sulaeman.
Referensi : kotahujan.com
0 Response to "Menyusur jejak Tjut Nya Dien di Gang Ardio Kota Bogor"
Post a Comment