Hotel Bellevue ini merupakan salah satu hotel termegah dan terlengkap dengan beberapa kamar dan ruangan yang digunakan seabgai ruang pertemuan dengan pemandangan gunung salak, begitu juga dengan kamar-kamarnya yang jendelanya semua dikhususnya menghadap ke arah kali dibawahnya yang mengalir membelah gunung salak.
Sekarang Hotel tersebut sudah hilang tidak berbekas, bahkan puing-puingnya pun kalau digali ditempat tersebut bakalan tidak ditemukan. Karena bangunan ini sudah lama dihancurkan dan sudah beberapa kali mengalami perubahan di daerah tersebut, mulai dari bangunan pasar induk Ramayana dengan Bioskop Ramayananya yang populer jaman dulu yang kemudian dibongkar lagi menjadi Gedung Bogor Trade Mall (BTM) yang sekarang.
![]() |
Pasar Ramayana dan Bioskop Ramayana tempo dulu |
![]() |
Gedung BTM yang berdiri di atas tanah bekas Hotel Bellevue |
Robert Nieuwenhuys (1908-1999), pria keturunan Belanda kelahiran Semarang, menuliskan kesannya tentang Bogor dan Hotel Bellevue dalam buku Faded Portraits (1982) sebagai berikut:
Saat kemarau di Batavia, menjelang musim hujan, dan awan kelabu dan hitam mulai berarak, kami akan berkata,”Pasti di Buitenzorg sedang hujan.”
Suatu saat, ketika udara panas memuncak, dedaunan menjuntai lesu, rumput mengering dan tanah meretak, ayah pulang sambil berkata,”Kita akan mencari udara segar,” kami pun mengerti bahwa saat mengunjungi Buitenzorg telah tiba. Tak berapa lama kemudian ayah menelepon Hotel Bellevue dan usai menikmati “ristafel” sekitar jam tiga sore, kami pun berangkat ke sana dengan mengendarai mobil.
Hotel Bellevue 1856 - 1878 |
Ayah tampak menikmati betul perjalanan itu. Sepanjang jalan kami mendengarnya menembang lagu “My Old Kentucky Home”. Lagu ini, tanah kering, pegunungan berkabut, Buitenzorg, Hotel Bellevue, dan pemandangan dari kamar kami — adalah kenangan manis masa kanak-kanakku.
Kami selalu berpikir Buitenzorg sudah dekat saat melewati talang air setelah pal 36 (1 pal kira-kira 1500 meter). Udara sejuk mulai terasa. Kadang-kadang hujan turun di perjalanan, dan pepohonan kerap masih meneteskan air saat kami memasuki Buitenzorg.
![]() |
Tandjakan Empang disebelah Bellevue |
Kami pun mulai menghirup aroma tanah, kelembaban, dan rumput hijau, seolah baru pertama kali bernapas dalam-dalam. Namun kami harus berkendara beberapa saat sebelum benar-benar merasakan kehadiran kota itu. Kami harus melewati dulu tugu batu di ujung sebuah jalan yang lapang dan dikelilingi pohon-pohon kenari, lalu melihat gedung putih tempat kediaman sang gubernur jenderal. Rusa-rusa berlarian di halaman rumputnya yang sangat luas.
Kebun Raya yang terkenal itu mulai terlihat. Di sisi jalan yang lain, di balik pohon-pohon palem, liana dan pakis, tampak gedung-gedung megah yang dibangun pada abad 18 dan 19. Saat itulah kami yakin sebentar lagi akan sampai.
Sebelum jalan mengarah ke kiri menuju pasar, kami lalu berbelok ke kanan. Hotel yang kami tuju muncul di depan kami: halamannya yang penuh bunga kecil berwarna kuning, bangunan megahnya yang bercat putih, menara di puncaknya, dan puncak Gunung Salak di belakangnya.
Buatku, datang ke sini selalu memberi sensasi dan rasa lega. Aku berpikir Bibi Sophie dan Paman Tjen juga merasakan perasaan yang sama karena mereka juga menginap di hotel ini. Mandor yang sama pastilah menyambut mereka di gerbang dan membawa mereka ke lantai atas untuk memesan kamar dengan pemandangan Sungai Ciliwung dan Gunung Salak.
Mereka disuguhkan teh di beranda depan meski senja telah tiba. Tak berapa lama kemudian hari pun mulai gelap dan ratusan lampu mulai berpendar di depan mereka. Suara-suara perempuan dan anak-anak yang sedang mandi, lengkingan seorang pria yang menyanyi, terdengar hingga larut malam. Mereka pasti mendengar pula suara gemercik air sungai, dan angin dingin yang berhembus dari gunung membawa suasana alam pedesaan.
Pagi-pagi sekali mereka terjaga oleh peluit kereta. Roda besinya yang berputar terdengar mendecit-decit dan perlahan menghilang. Mereka pun merasakan suasana damai kembali. Ketika mereka bangun, kabut masih menyelimuti pepohonan dan sungai. Gunung Salak masih berselubung awan putih. Tak lama kemudian matahari pun muncul dan menembus kabut dengan sinarnya yang jingga. Pagi yang indah.
Paman Tjen dan Bibi Sophie lalu berjalan menikmati pagi di Kebun Raya. Bersisian mereka melintasi jalan megah yang hijau oleh pepohonan. Mereka menuruni jejak berliku menuju air mancur dan mendekati kolam ikan yang penuh bunga lili berwarna putih dan jambon. Udara terasa teduh dan dingin, meski alam tengah memancarkan cahaya kehidupannya. Dari arah semak dan rerumputan terdengar suara jangkik dan jeritan tonggeret.
Buitenzorg sendiri menyerupai taman besar, perpaduan antara arsitektur dan alam, dengan jalan-jalan besar yang lurus serta jalan-jalan kecil yang sempit dan berkelak-kelok. Sensasi berada di kebun tak pernah hilang; rumah-rumah seperti tenggelam dalam kehijauan. Rumah-rumah itu tua dan terasa lembab, dindingnya tersapu oleh warna hijau cendawan. Sejumlah lampu jalan berasal dari seabad lalu. Di malam hari, gelap selalu menyelimuti. Air terus menetes ke tanah, bahkan berjam-jam seusai hujan reda.
Paman Tjen dan Bibi Sophie tak akan meninggalkan Buitenzorg hingga hari berikutnya. Saat petang, mereka berenang di antara ikan-ikan di pemandian alam Tjibatu (mungkin maksudnya Kotabatu, pen.) yang airnya begitu bening. Bibi mengenakan sarung yang kadang menggembung seperti balon di dalam air. Setelah itu mereka kembali ke gazebo dimana mandor menyajikan kopi hitam yang dituang dari ketel ke dalam cangkir yang sudah retak. Dia juga membawa jagung dan peuyeum bakar dalam piring putih. Sebuah pelayanan menyentuh hati yang menambah kesan pada kesederhanaan orang desa.
inget ikut ibu ke pasar induk ramayana era 80'an.........
ReplyDelete