Sejarah dan Kondisi Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran merupakan nama dari sebuah kerajaan Sunda yang memiliki ibukota kerajaan di daerah yang dikenal dengan nama Pakuan atau Pakuan Pajajaran ( sekarang Bogor Jawa Barat ). 
Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang artinya Kota. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa lalu di wilayah Asia Tenggara ada kebiasaan yang menyebut nama kerajaan dengan menggunakan nama ibu kotanya. 
Catatan-catatan sejarah mengungkapkan pendirian kerajaan ini oleh Sri Jayabhupati pada tahun 923 seperti yang disebutkan dalam tulisan di Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) yang terletak di Kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang di tepi sungai Cicatih, Cibadak, Sukabumi.


Awal Pakuan Pajajaran 

 
Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.



Peta Kerajaan Sunda
Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.
Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit. ( dan semenjak itulah muncul aturan bagi orang sunda untuk tidak menikahi orang jawa yang hingga kini masih dipegang teguh oleh beberapa penduduk di kawasan sunda )

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.


Sumber Sejarah 

 
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:

  1. Prasasti Batu Tulis, Bogor
  2. Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
  3. Prasasti Kawali, Ciamis
  4. Prasasti Rakyan Juru Pangambat
  5. Prasasti Horren
  6. Prasasti Astanagede
  7. Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
  8. Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
  9. Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan
  10. Berita asing dari Tome Pires (1513) dan Pigafetta (1522)

Segi Geografis Kerajaan Pajajaran
Terletak di Parahyangan (Sunda). Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda disebut Dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta).

Kerajaan Pajajaran terletak di Jawa Barat, yang berkembang pada abad ke 8-16. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain :

  1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
  2. Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
  3. Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
  4. Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
  5. Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  6. Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)
  7. Rahyang Niskala Wastu Kencana
  8. Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)
  9. Sri Baduga MahaRaja
  10. Hyang Wuni Sora
  11. Ratu Samian (Prabu Surawisesa)
  12. Prabu Ratu Dewata.
Puncak Keemasan Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.

Dalam pemerintahannya Sang Maharaja membuat beberapa karya besar, yaitu ;

  • Membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya,
  • Membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri.
  • Memperteguh (pertahanan) ibu kota,
  • Memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat.
  • Membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan),
  • Memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan Menyusun undang-undang kerajaan
Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.




Situs Batu Tulis pertama kali ditemukan oleh Kolonial Hindia Belanda
Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan;
  • Membuat Talaga Maharena Wijaya;
  • Memperteguh ibu kota;
  • Membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, Mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan
  • Menyusun undang-undang kerajaan 

Puncak Kehancuran
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.


Kondisi Kehidupan Ekonomi
Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari pertanian, terutama perladangan. Di samping itu, Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan)


Kondisi Kehidupan Sosial
Kehidupan masyarakat Pajajaran dapat di golongan menjadi golongan seniman (pemain gamelan, penari dan badut pertunjukan), golongan petani, golongan perdagangan, golongan yang di anggap jahat (tukang copet, tukang rampas, begal, maling, prampok, dll)


Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya dari masyarakat Pajajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu. Peninggalan-peninggalannya  berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik. 



HISTORIKA MENURUT MUSEUM SEJARAH PRABU SILIWANGI:
Sejarah Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran menurut Historika dari Museum Sejarah Prabu Siliwangi .


HISTORIKA
Historika adalah koleksi yang mengandung nilai sejarah meliputi kurun waktu sejak masuknya budaya barat sampai sekarang. Benda-benda ini berhubungan dengan suatu peristiwa. Koleksi yang dipamerkan adalah:

I. Foto-Foto Benda Sejarah HISTORIO GRAPHY TRADISI:
1. Buku Kitab Suwasit buku sumber sejarah

2. Naskah Sasakala Prabu Siliwangi dalam tulisan Pajajaran


3. Rumah adat jaman pajajaran



4. Denah Kerajaan Pajajaran


5. Ukiran Seni Batik Pajajaran


6. Tempat makan dan minum jaman pajajaran


7. Lukisan Prabu Siliwangi (Pelukis M.Fajar Laksana)

8. Foto Spiritual Penampakan Gerbang Istana Pajajaran di Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh Kab.Majalengka


9. Lukisan Bendera Kerajaan Pajajaran (Pelukis M.Fajar Laksana)



II. SEJARAH PRABU SILIWANGI
KITAB SUWASIT SEBAGAI HISTOTIOGRAPHY TRADISI
ADA 22 INTI SARI SEJARAH PRABU SILIWANGI :
Bagian 1 Nasab Keluarga Prabu Sliliwangi
Bagian 2 Prabu Angga Rarang Raja Kerajaan Gajah
Bagian 3 Pangeran Pamanah Rasa Abad 15 Mejadi Raja Di Kerajaan Gajah
Bagian 4 Pangeran Pamanah Rasa Berkelana, Menaklukkan Macan Putih
Bagian 5 Pangeran Pamanah Rasa Bertemu Ki Dampu Awang
Bagian 6 Pangeran Pamanah Rasa Membuktikan Raja Kepada Ki Dampu Awang
Bagian 7 Pangeran Pamanah Rasa Menikah Dengan Nyai Aci Putih
Bagian 8 Pangeran Pamanah Rasa Kembali Ke Kerajaan Perang Dengan Mongol Pati
Bagian 9 Mengganti Nama Kerajaaan Gajah Menjadi Pakuan Pejajaran Dan Membuat Simbol Senjata Kujang Yang Pertama
Bagian 10 Kerajaan Pajajaran Menyerang Kerajaan Galuh
Bagian 11 Raja Galuh Meninggal
Bagian 12 Pangeran Pamanah Rasa Mendapat Wasiat Dari Ayahnya Harus Menaklukan Syekh Quro
Bagian 13 Pangeran Pamanah Rasa Ke Sumedang Bertemu Pangeran Jaga Raksa
Bagian 14 Pangeran Pamanah Rasa Berganti Nama Menjadi Pangeran Pamanah Sari
Bagian 15 Pangeran Pamanah Sari Di Cirebon Bertemu Ki Dampu Awang
Bagian 16 Pangeran Pamanah Sari Bertemu Ki Gendeng Tapa
Bagian 17 Pangeran Pamanah Sari / Prabu Siliwangi Masuk Islam Oleh Syekh Quro
Bagian 18 Pangeran Pamanah Sari Berangkat Ke Haji
Bagian 19 Pangeran Pamanah Sari Menikah Dengan Nyi Subang Larang
Bagian 20 Pangeran Pamanah Sari Menikah Dengan Nyi Kasih
Bagian 21 Pangeran Pamanah Sari Menjadi Penguasa Cirebon Di Berikan Gelar Prabu Siliwangi
Bagian 22 Prabu Siliwangi Menghilangkan Kerajaan Pajajaran Pindah Ke Alam Ghoib

PENJELASAN SINGKAT SEJARAH ISLAMISASI PRABU SILIWANGI

Pangeran Pamanah Rasa Menjadi Di Kerajaan Gajah

Semenjak abad empat belas setelah Pangeran Anggararang mengajarkan kembali keilmuanya untuk mejadi seorang raja, agar bisa memimpin kerajaan dan rakyat-rakyatnya, dari situ Pangeran Pamanah Rasa di angkat oleh ayahnya yaitu pangeran Anggararang menjadi raja ke dua dari kerajaan Gajah, yang disebut-sebut kerajaan Gajah itu symbol atau tanda lambang kerajaan yang di bawa dari adat atau budaya, karena jika punya kerajaan harus tahu nama kerajaannya.

Pangeran Pamanah Rasa berkelana, Macan Putih

Pangeran Pamanah Rasa ingin mencoba keluar meninggalkan rakyat dan saudara-saudaranya, keluar dari kerajaan untuk mencari ilmu dan mengunjungi kerajaan-kerajaan yang lain sambil beliau memperkenalkan diri bahwa beliau yang memegang kerajaan Gajah, Beliau pergi sendiri tidak di kawal oleh satu orang pun padahal prajurit-prajuritnya banyak menawarkan supaya di kawal, tetapi beliau tetap pergi sendiri.
Setelah beliau keluar dari hutan, beliau merasa haus lalu mencari air untuk minum. Akhirnya Pangeran Pamanah Rasa menemukan air terjun yang besar (air terjun ini curug sawer di Majalengka). Setelah beliau mendatangi air terjun tersebut Pangeran Pamanah Rasa kaget karena di sekelilingnya banyak harimau besar.
Harimau Putih tersebut menghampiri Pangeran Pamanah Rasa, sudah hampir sampai tinggal beberapa langkah lagi Harimau Putih itu mau menerkam Pangeran Pamanah Rasa.
Pangeran Pamanah Rasa memakai keilmuannya membuat gulungan angin besar, dan angin tersebut di bentuk dan dipadukan dengan air terjun yang mengalir menggunakan tenaga dalam ilmu kanuragan, di bentuk menjadi gulungan angin dan air dijadikan senjata untuk melawan Harimau Putih.
Maka dari situ Harimau Putih kalah oleh Pangeran Pamanah Rasa. Harimau Putih tersebut sudah tidak melawan lagi, tapi karena Harimau Putih sudah mencelakakan Pangeran Pamanah Rasa, maka dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya yang sudah di lakukan padanya, Sebelum Pangeran Pamanah Rasa berangkat Harimau Putih itu memberi pakaian, Karena pakaian pangeran sobek bekas pertarungan tadi. Pangeran Pamanah Rasa di kasih pakaian dari kulit harimau oleh Harimau Putih. Harimau Putih merasa kurang cukup apabila hanya memberi pakaian saja, jadi dia memutuskan untuk mengabdi kepada Pangeran Pamanah Rasa dengan mendampingi beliau. Sebagai keputusan terbaik yang harimau putih ambil.

Pangeran Pamanah Rasa kembali ke kerajaan Dengan Mongol Pati

Pangeran Pamanah Rasa perasaannya tidak tenang, beliau takut ada apa-apa sesuatu yang buruk menimpa pada kerajaannya.Pangeran Pamanah Rasa menempuh perjalanan dalam waktu tiga hari untuk sampai ke kerajaan.
Eyang Jaya Perkasa yang disuruh dan yang dititipi megang kerajaan mendapatkan surat dari kerajaan Mongol Pati untuk masalah wilayah, surat dari kerajaan Mongol Pati, yang isi suratnya mengajak berperang. Eyang Jaya Perkasa menggantikan Pangeran Pamanah Rasa dikarenakan tiga hari lagi dari kerajaan Mongol Pati mau nyerang ke kerajaan Gajah. Secara terus menerus berlangsung dengan hebatnya, saling hantam senjata tajam dan sebagainya. Tidak lama kemudian Harimau Putih mendadak keluar berhamburan entah dari mana datangnya, ada beberapa Harimau Putih muncul , menyerang prajurit Mongol Pati, tak lama kemudian prajurit kerajaan Mongol Pati mundur kocar kacir di amuk Harimau Putih, sebagian lagi mati oleh Harimau Putih.
Siang itu juga perang selesai, Harimau Putih berjejer menghadap Panglima Eyang Jaya Perkasa dan prajuritnya. Tak lama kemudian dihadapan Harimau Putih yang berbaris, Pangeran Pamanah Rasa mendadak ada disamping Harimau Putih yang lebih besar, dari sana prajurit-prajurit tertunduk nyembah kepada beliau, seketika Harimau Putih yang berbaris lenyap menghilang, tinggal satu lagi yang disamping Pangeran Pamanah Rasa.

Mengganti Nama Kerajaaan Gajah menjadi PAKUAN PEJAJARAN
Dan Membuat Simbol Senjata Kujang Yang Pertama

Pangeran Pamanah Rasa sudah menghitung nama apa yang baik untuk mengganti nama kerajaan yang sekarang. Terus beliau mempertimbangkan bersama panglimanya, kata Pangeran Pamanah Rasa
Negara kita Negara sunda, maka kita bisa disebut orang sunda, kemudian sekarang jamannya sudah agak beda bukan jaman purba lagi, memang sejak dulu kerajaan Gajah terkenal, berkat Ramahanda saya, yang masih termasuk jaman purba, dengan symbol Gajah, disatukan jadi symbol kerajaan, datang dari petunjuk yang jadi kekuatan berdirinya kerajaan Gajah. juga sama, Negara ini juga ada nama, yaitu Negara yang kita diami adalah tataran sunda yang termasuk dari simbolnya yaitu binatang yang paling buas yaitu Harimau. sunda tersebut harus benar-benar dipegang oleh saya, jadi harus dipercepat membuat barang-barang yang membentuk pisau untuk ciri dari kerajaan sunda sebagai simbol yang bisa menyimpan kekuatan, buatkan pisau berbentuk Harimau sebanyak tiga buah..
Pada waktu itu juga Pangeran Pamanah Rasa menyuruh ke Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata, yaitu harus menyimbolkan tataran sunda, senjata sunda yaitu pisau yang berbentuk Harimau, sebagai awal mula sejarah dibuatnya tiga senjata yang berbentuk Harimau tiga warna, yaitukuning, hitam, putih senjata-senjata tersebut diminta untuk langsung dibuatkan.
Senjata pertama yang berwarna hitam, dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar oleh Pangeran Pamanah Rasa sendiri, dibentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.
Senjata Kedua dibuat dari air api yang dingin, yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning.
Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau.
Barang sudah jadi tinggal namanya, semalam penuh Pangeran Pamanah Rasa memikirkan nama untuk barang itu, tepat ayam berkokok tepat ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut, yaitu dengan bahasa sandi, bahasa itu sangat tepat untuk barang senjata yang sudah jadi, yaitu namanya KUJANG, dikarenakan barangnya ada tiga, beda beda warna tapi bentuknya sama disebut jadi KUJANG TIGA SERANGKAI, YANG ARTINYA BEDA-BEDA TAPI TETAP SAMA atau nama yang beda warna tapi berkaitan, dikarenakan bentuknya sama, Pangeran Pamanah Rasa bicara lagi,
Nah saya ini ada petunjuk yaitu jika dari barang sudah selesai sekarang masalah nama kerajaan, dikarenakan saya ada yang membantu yaitu bangsa siluman ataupun Harimau Harimau ghaib, jadi saya membawa nama kerajaan dari Negara Gajah dengan kerajaan Harimau, bila disatukan maka namanya disebut PAKUAN PAJAJARAN disatukan lagi oleh barang yang tiga itu yang namanya KUJANG jadi tepat sudah, nah ditatar sunda ini lahirKerajaan Pajajaran.
Eyang saat mengganti kerajaan ini namanya bukan untuk saya sendiri tapi untuk rakyat semua supaya ada perubahan untuk semuanya, oleh karena itu kita semua harus mengikuti jaman, sekarang sudah agak maju jamannya dikarenakan harus di iringi oleh ilmu ekonomi, hal itu dari melihat kerajaan yang lain, hal itu juga untuk merebut kerajaaan Galuh yang membayar Mongol Pati untuk menyerang kerajaan kita, jadi kita juga sama kita serang kerajaan Galuh dengan tenaga baru, prajurit Gajah dan prajurit Harimau kita satukan memakai Bahasa sandi, jadi nama ini Pajajaran. Nah begitu barangkali rencana saya,
Pangeran Pamanah Rasa bicara begitu ke panglimanya dikarenakan ingin didukung oleh panglimanya, jawab Eyang Jaya Perkasa;
Iya Pangeran, saya mengikuti, dikarenakan itu petunjuknya, laksanakan saja jangan takut dibantu oleh saya Insya Allah, nah itu jawaban Eyang Jaya Perkasa dengan menyebut Insya Allah dikarenakan Eyangnya seorang yang beragama islam beda dengan Pangerannya.

Pangeran Pamanah Sari Masuk Islam Oleh Syekh Quro

Pangeran Pamanah Rasa berganti nama menjadi Pangeran Pamanah Sari untuk menaklukan Syekh Quro namun beberapa hari kemudian Pangeran Pamanah Sari meminta kepada ki Gendeng Tapa membawa putrinya untuk dinikahi oleh Pangeran Pamanah Sari, penawaran itu sudah diserahkan semuanya kepada Syekh Quro sebab Nyi Subang Larang sudah menjadi putri angkatnya Syekh Quro.
Pangeran Pamanah Sari datang ka Syekh Quro. Setelah sampai ditempatnya Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari berbicara hanya pokok masalah penting saja, yaitu tentang mau menikahi Nyi Subang Larang, Syekh Quro menerima lamaran Pangeran Pamanah Sari namun dalam masalah itu Syekh Quro meminta syarat yang harus di penuhi dan dilakukan yaitu ada 3 syarat;
Yang pertama harus masuk islam, yang kedua harus belajar ngaji, yang ketiga harus berangkat dulu ke haji, itu syarat-syarat yang diberikan oleh Syekh Quro kepada Pangeran Pamanah Sari.
Pangeran Pamanah Sari Kebingungan dengan persyaratan tersebut terlalu berat karena beliau dari agama Hindu, tetapi karena ada yang ingin dicapai Pangeran Pamanah Sari memutuskan siap apa yang dibicarakan oleh Syekh Quro, Syekh Quro berjanji menentukan waktu untuk mengislamkan Pangeran Pamanah Sari yaitu satu hari setelah Pangeran Pamanah Sari menyanggupinya, tidak terlalu lama waktu yang ditunggu telah tiba. Pangeran Pamanah Sari siap untuk di Islamkan, beliau datang kepada Syekh Quro untuk di Islamkan ketika sampai ke tempatnya Syekh Quro. Semua orang dikumpulkan ke dalam ruangan, ki Gendeng Tapa menyaksikan Pangeran Pamanah Sari di Islamkan, tidak terlalu lama Pengeran Pamanah Sari diberikan janji oleh Syekh Quro sambil memegang tangannya dengan mengucapkan dua kalimah Syahadat, setelah itu selesai Pangeran Pamanah Sari dianggap sah dari akad menjadi muslim, hari itu selesai untuk syarat pertama. Pangeran Pamanah Sari langsung menjalankan syarat yang kedua yaitu belajar ngaji.
Syekh Quro langsung mengajarkan, siang malam Pangeran Pamanah Sari belajar ngaji dengan Syekh Quro, karena ingin bisa serta ingin cepat mengejar pada syarat yang ketiga, tidak lama kemudian setelah 5 bulan Pangeran Pamanah Sari bisa ngaji seperti membaca huruf arab, sholat, dan pemikiran Islam seperti apa artinya Islam, semua ilmu agama islam telah diserapnya.
Syekh Quro bingung dan heran Pangeran Pamanah Sari bisa belajar dengan cepat, padalah sampai tingkatan semua itu, bisa butuh waktu sekitar dua tahun. Pangeran Pamanah Sari langsung meminta syarat yang ketiga yaitu naik haji, Syekh Quro langsung menyiapkan Pangeran Pamanah Sari sebab Pangeran Pamanah Sari mau dibawa ke Arab yaitu ke Mekah tampat orang naik Haji, beliau dikasih tahu dulu oleh Syekh Quro harus itikaf, berdiam diri di Mekah selama empat puluh hari.

Pangeran Pamanah Sari Berangkat ke Haji

Setelah Syekh Quro menjelaskan, Pangeran Pamanah Sari mengerti dan menyanggupi, pada malam itu juga Syekh Quro membawa Pangeran Pamanah Sari ke Mekah. Pangeran Pamanah Sari berangkat ke Mekah di bawa terbang oleh Syekh Quro sampai ke Mekah membutuhkan waktu satu malam, berangkat malam sampai subuh tiba di Mekah langsung sholat shubuh, setelah sholat subuh Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari istirahat dulu, seterah istirahat langsung melaksanakan ibadah haji sejak pertama melaksanakan sholat berjamaah sampai amalan-amalan yang diajarkan oleh Syekh Quro diamalkan, sehari penuh berkeliling Kabah.
Pangeran Pamanah Sari kebingungan kenapa dirinya jadi begini, sudah beberapa hari Pangeran Pamanah Sari ada perubahan dalam dirinya sedikit-sedikit dosa dan kajadian-kajadian oleh beliau yang dialami seperti nyata kelihatan nampak seperti mimpi buruk atau jelek, Pangeran Pamanah Sari sampai menangis habis-habisan di depan Kabah. Semenjak itu Pangeran Pamanah Sari percaya Islam dan percaya adanya Allah, empat puluh hari tidak terasa sudah berlalu Pangeran Pamanah Sari dibawa pulang oleh Syekh Quro setelah sampai kembali ke tempat, banyak yang berkumpul menunggu yang pulang dari haji.
Malam itu juga Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari sudah sampai ditempat, pulang dari haji. Karena malam itu sudah pada lelah tidak terlalu lama setelah mengobrol lalu istirahat.
Ayam sudah bekokok yang artinya waktu sholat subuh, Pangeran Pamanah Sari yang biasanya bangun pagi setelah mata hari bersinar, tetapi sekarang masih gelap juga sudah bangun untuk sholat subuh dengan Syekh Quro, setelah sholat subuh Pangeran Pamanah Sari melanjutkan Wirid dan dzikir sampai matahari terbit.
Setelah selesai wirid dan Dzikir , Pangeran Pamanah Sari ditanya oleh Syekh Quro dalam masalah pernikahannya dengan Nyai Subang Larang, dari situ Pangeran Pamanah Sari ingin bicara dulu kepada semuanya, karena sebelumnya beliau ada niat hati yang jelek, setelah belajar dengan Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari mengalami banyak perubahan dalam dirinya dan tahu mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah, oleh karena itu Pangeran Pamanah Sari menjelaskan yang sebenarnya bahwa dia yang sebenarnya adalah Raja di Kerajaan Pajajaran, setelah di jelaskan ada yang terkejut, ada yang langsung menyembah dan sebagainya, tetapi Syekh Quro biasa saja karena sudah tahu dari awal juga, tidak ada yang membuat marah satupun malahan senang Pangeran Pamanah Sari berterus terang.

Pamanah Sari Menikah dengan Nyi Subang Larang

Dikarenakan Syekh Quro sudah berjanji kepada Pangeran Pamanah Sari dalam syarat yang ketiga yaitu menikahkan Nyai Subang Larang dengan Pangeran Pamanah Sari. Pangeran Pamanah Sari langsung gembira mendengar perkataan Syekh Quro, semua yang ada disitu terus memastikan atau menentukan hari-harinya untuk pernikahan yang baik, Itu semua diserahkan kepada Syekh Quro yang lebih mengetahui waktu yang baik. Tidak lama waktu sudah ditentukan oleh Syekh Quro, ada waktu tiga hari untuk mempersiapkannya. Waktu tiga hari terasa cepat tidak disangka-sangka Pangeran Pamanah Sari menikah juga dengan Nyai Subang Larang, pada hari itu pesta besar dilaksanakan, namun hanya dipenuhi oleh para santri Syekh Quro saja dari pertama sampai akhir.

Pangeran Pamanah Sari Menikah dengan Nyi Kasih
Pangeran Pamanah Sari Menjadi Penguasa CirebonBerikan Gelar Prabu Siliwangi

Pangeran Pamanah Sari dengan Nyi Kasih sudah resmi menjadi suami istri. Pangeran Pamanah Sari berkumpul dengan istri-istrinya menjadi hidup bersama-sama. Tidak lama kemudian Ki Gendeng Kasih menyerahkan sebagian tanah Cirebon karena yang sebagian ada di Ki Gendeng Tapa, oleh Pangeran Pamanah Sari diterima, tidak lama kemudian juga Ki Gendeng Tapa sudah tua yang sebagiannya lagi di berikan juga, jadi tanah Cirebon di pegang oleh Pangeran Pamanah Sari semuanya tidak lama kemudian para sesepuh kumpul dengan Pangeran Pamanah Sari, Ki Gendeng Tapa, Ki Gendeng Kasih dengan Ki Dampu Awang, dengan istri-istrinya Pangeran Pamanah Sari yaitu ada tiga, Nyai Subang Larang, Nyai Kasih dengan Nyai Aci Putih.

Istri yang pertama Nyai Aci Putih yaitu Purtinya Ki Dampu Awang, istri yang kedua yaitu Nyai Subang Larang putrinya Ki Gendeng Tapa yang ketiga yaitu Nyai Kasih purtinya Ki Gendeng Kasih. Semuanya pada kumpul sebab Pangeran Pamanah Sari sakti mandra guna dan pintar, terkenal dimana-mana yang menguasai kerajaan Pajajaran, Pangeran Pamanah Sari oleh sesepuh di beri julukan SANG PRABU SILIWANGI yang artinya raja kerajaan Pajajaran yang harum dimana-mana terkenal dimana-mana, Pangeran Pamanah Rasa atau Pangeran Pamanah Sari menjadi terkenal dengan gelar Sang Prabu Siliwangi.

Prabu Siliwangi hidup jaya sampai dengan beliau mempunyai putra dari istri yang pertama yaitu Nyai Aci Putih dan nama putranya ARYA SETA di beri gelar PRABU KIAN SANTANG , terus mempunyai lagi dari istri yang ke dua yaitu mempunyai dua anak, Perempuan dan laki-laki yang diberi nama untuk putrinya NYAI LARA SANTANG yang laki-laki PANGERAN WALASUNGSANG, Prabu Siliwangi mepunyai putra tiga dari dua istri tidak lama kemudian yang terakhir yaitu istri Prabu Siliwangi yang ketiga Nyai Kasih mempunyai anak satu laki-laki yang bernama PANGERAN SAGARA.

Prabu Siliwangi Menghilangkan
Kerajaan Pajajaran Pindah ke Alam Ghoib

Prabu Siliwangi dari ketiga istrinya beliau mempunyai keturunan sampai beliau lupa terlalu lama tinggal di Cirebon. Tidak lama kemudian datanglah perajurit Pajajaran yang di utus oleh panglimanya untuk menjemput Prabu Siliwangi kembali pulang ke kerajaan, karena Kerajaan Pajajaran membutuhkan seorang Raja.

Prabu Siliwangi bingung karena sudah berbeda agama. Prabu Siliwangi sudah muslim sedangkan di kerjaan Pajajaran masih beragama Hindu. Akhirnya prabu Siliwangi Mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah itu.

Sebelum Pergi Prabu Siliwangi berpesan kepada seluruh istrinya agar tanah Cirebon dan ajarannya harus turun-temurun sampai pada anak cucu mereka. Lalu Prabu Siliwangi berangkat kembali ke karajaan Pajajaran bersama para prajurit dan ditemani oleh macan putih yang telah diangkat menjadi panglima oleh Prabu Siliwangi.

Waktu Yang dibutuhkan untuk kembali ke kerajaaan pajajaran sekitar 3 hari, tetapi karena Prabu Siliwangi telah mempunyai Ilmu Aji Halimun maka tak disangka-sangka mereka bisa sampai tujuan hanya dalam waktu setengah hari.

Seluruh rakyat Kerajaan dan segenap keluarga Menyambut kedatangan Prabu Siliwangi,mereka menyembah Prabu sepanjang jalan menuju Kerajaan, lalu Prabu di sambut dengan suka cita oleh kakeknya Panglima Eyang Jaya Karsa, Prabu Siliwangi masuk ke dalam kerajaan tak ada yang berubah satu pun di kerajaan masih seperti waktu di tinggalkan dulu.

Beberapa hari terakhir Prabu Siliwangi memikirkan bagaimana Fitnah dari rakyat-rakyatnya apabila mereka tahu bahwa dirinya Sudah di Islamkan oleh Syehk Quro. Sebenarnya Beliau Telah memikirkan hal ini semenjak berada di tanah Cirebon bagaimana caranya supaya menghilangkan Fitnah atau perkataan-perkataan dari rakyatnya yang tidak tahu tentang agama, tidak lama kemudian Prabu Siliwangi mendatangi Macan Putih panglimanya Supaya Membantu Negara Pajajaran Di Pindahkan Ke Alam GHAIB alam Jin. Prabu Siliwangi Menunggu datangnya Bulan Purnama untuk menjalankan Rencananya itu Ketika Pintu GHAIB terbuka, kebetulan datangnnya Bulan purnama hanya 2 Hari lagi, sambil menunggu Prabu Siliwangi bersama macan putih malam-malam pergi ke batas Kerajaan Pajajaran untuk menanam pohon jeruk, dari batas kerajaan supaya ketika Menghilang tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan tidak ada bukti apapun.

Akhirnya Malam kedua di bulan Purnama waktu yang telah ditentukan oleh Prabu Siliwangi Datang Juga, Beliau Bersama Macan Putih menyireup agar semua rakyatnya tidak ada yang mengetahui satu juga pindahnya karajaan Pajajaran dari alam dzohir ke alam ghaib. Prabu Siliwangi langsung memindahkan kerajaan tersebut dengan orang-orangnya, memakai ilmu dengan dibantu oleh Macan Putih menghilang. Nah semua negara kerajaan Pajajaran pindah dari alam dzohir ke alam ghaib.

SUMBER: MUSEUM SEJARAH PRABU SILIWANGI
http://museum.pptalfath.ac.id/home/pameran-benda/historika/


SASAKALA PRABU SILIWANGI:
TULISAN KUNO PAJAJARAN DIKULIT YANG MENYEBUTKAN “PRABU SILIWANGI SUDAH MENJADI MUSLIM”


Isi Tulisan :”SASAKALA PRABU SILIWANGI” 

Kaula Prabu Siliwangi nyakenkeun ka sadaya jamaah Diya sakayan kaula nu InsyAllah ngabalai Diya nyusuk nudihapurankeun kaagama Islam Nyian anaka arang-arang nuku kaula di wastupun Nyakeun hate diyaya sakala dikailkeun di kaitkeun Dipahetkeun nyakeun lelembut diyaya sakala arang-arang marifat Puran kayan kageugeuh diyayakeun ka gusti Allah Diya dihapurankeun ka agama Islamna Haturan dajar nyakeun hapur kaula kasabab Neuteup diyaya teu nyakeun diaya sakala bisa musrik Sakatu nu kaula bisa dibantoskeun diya kecapna Susuhun dihapuran diya kecap parit ieu upami aya kalepat Kaula Prabu Siliwangi Pangeran Pamanah Rasa.

Pengertian Dalam Bahasa Sunda : 
Sing kuring Prabu Siliwangi anu ngayakinkeun kasadaya jamaah Tina kaayaan singkuring anu isnyaAllah ngabantos Tina perkawis ngajuangkeun agama Islam Nganggo metode/cara ritual anu kusingkuring ditempatkeun Kana hate aranjeun sadayana ditalikeun, dikaitken Dipagehkeun kana ruh-ruh anjenna elmu-elmu marifat Kanggo aya kateguhan tina kayakinan ka Gusti Allah Tina ngajuangkeun agama Islam Hayu urang diajar kayakinan sareng singkuring kusabab Lamun urang teu yakin urang sadaya bisa musrik Sakitu anu kusingkuring tiasa dibuktoskeun tina cariosanana Cariosanna nyuhunkeun di hapunten tina ucapan serat ieu upami aya kalepatan Kaula Prabu Siliwangi Pangeran Pamanah Rasa.

Pengertian Dalam Bahasa Indonesia : 
”Saya Prabu siliwangi yang menyakinkan kesemua anggota jama’ah mengenai keadaan saya yang insya Alloh membantu dalam masalah memperjuangkan agama Islam menggunakan metode/cara Ritual yang saya tempatkan kedalam Kolbu/hati kalian semua ditalikan, dikaitkan Dikuatkan kedalam ruh-ruh kalian ilmu-ilmu ma’rifat agar ada keteguhan dalam keyakinan terhadap Alloh Subhanahu Wataala dalam memperjuangkan agama Islam. Mari kita belajar keyakianan bersama Saya karena Jika kita tidak yakin kita semua bisa musrik. Sekian yang dapat saya buktikan dalam ucapan saya. Ucapan saya mohon dapat dimaapkan dari kata-kata dalam surat ini kalau ada kesalahan. Saya Prabu Siliwangi Pangeran Pamanah Rasa

TULISAN PAJAJARAN DIKULIT”PERINTAH PERANG KA EYANG JAYA PERKASA”


Isi Tulisan :
Pati Pinanti Sujuning Sirip Sagening Sinan Jaya Perkasa Junun

Pengertian Bahasa Sunda :
Serat Parentah nu disanggakeun tugas ti Gusti anu Isina parentah perang nu disanggakeun ka Eyang Jaya Perkasa
Pengertian Bahasa Indonesia :
Surat Perintah yang diserahkan tugas dari Gusti (Prabu Siliwangi) yang isina perintah perang kepada Eyang Jaya Perkasa

Sumber lengkap bisa dilihat di http://museum.pptalfath.ac.id/home/pameran-benda/filologika/




Baca juga Artikel-artikel yang berkaitan dengan Pajajaran :

0 Response to "Sejarah dan Kondisi Kerajaan Pajajaran"

Post a Comment