Namun melihat bisnis sewa-menyewa tanah yang dilakukan Gubernur Jenderal sebelumya yang memberikan keuntungan besar, maka hal tersebut membuar Van der Parra semakin bersemangat untuk mengizinkan pembangunan sebuah pasar di Buitenzorg.
Pasar yang dibangunnya itu kemudian diberi nama Pasar Baroe yang akhirnya menjadi pusat jual-beli masyarakat Bogor tempo dulu baik yang berasal dari Cisarua, Cianjur, hingga Sukabumi.
![]() |
Pasar Bogor tempo dulu |
Pasar ini terletak di kawasan perniagaan (Handelstraat) yang kelak menjadi sebuah kawasan perniagaan terbesar di Bogor yang terletak di Jalan Surya Kencana, Babakan Pasat, Bogor Tengah. Lokasi pasar ini berada tepat di sebelah selatan dari Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio) atau berada di sebelah barat dari rumah luitenant Lie Beng Hok dan Hotel Pasar Baroe.
Pasar Baroe ini kemungkinan dibangun sejak tahun 1770. Lokasi pasar tersebut berdekatan dengan Kampung Bogor yang terdapat di dalamnya pemukiman penduduk, dan berada tidak jauh dari Kantor Kabupaten Kampung Baru (Kampoeng Baroe) karena itu sebabnya pasar ini kemudian dinamakan sebagai Pasar Baroe yang kelak menjadi pasar Bogor yang saat itu disekelilingnya masih berupa hutan (Samida).
Awalnya, pasar ini merupakan pasar pekan yang hanya dibuka seminggu sekali. Namun, seiring menggeliatnya perekonomian kala itu, waktu operasi pasar ini pun mulai ditambah menjadi dua kali seminggu, yaitu setiap hari Senin dan Jumat.
Dari hasil bisnis sewa tanah ini, Gubernur Jenderal Van der Parra meraup keuntungan yang lumayan besar. Pada waktu itu, walaupun hanya dibuka dua kali seminggu, Gubernur Jenderal berhasil mendapatkan keuntungan sebesar 8.000 ringgit dari hasil sewa pasar ini. Karena semakin ramai, Pasar Bogor ini menarik banyak orang untuk berdagang, termasuk dari orang-orang Tionghoa.
![]() |
Stasiun Bogor |
Kemudian sejak rampungnya jalur kereta api yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg sepanjang 60 kilometer pada tahun 1873, menjadikan status pasar ini meningkat dari pasar pekan menjadi pasar lokal dan kemudian menjadi pasar regional. Waktu operasi pasar pun sudah berubah menjadi setiap hari. Hal ini menyebabkan semakin tingginya kegiatan perekonomian yang ada di Pasar Bogor.
![]() |
Petani dan kentang dari hasil pertaniannya di Stasiun Bogor |
Daya tarik dari pasar ini yang kemudian membuat para pedagang untuk memutuskan menetap di daerah sekitar Pasar Bogor. Awalnya, masyarakat dari berbagai daerah tinggal di daerah sekitar pasar, akan tetapi karena keuletan pedagang dari kalangan orang Tionghoa semakin mendominasi maka daerah sekitar Pasar Bogor ini lambat laun membentuk sebuah perkampungan Tionghoa, atau yang dikenal sebagai Pecinan.
Jika kita melihat kondisi sekarang, apa yang dikenal dengan pasar Bogor kini tidak tampak lagi, karena ditempat tersebut telah berdiri bangunan Plaza berlantai lima. Keberadaan pasar masih bisa ditemukan jika kita berjalan ke arah belakang dari bangunan Plaza tersebut.
Jika kita menyusuri jalan-jalan di sekitar pasar tersebut, maka akan tampak pemandangan tempo dulu yang masih tersisa.
GALERI FOTO PASAR BOGOR DAN SEKITARNYA TEMPO DULU
Pasar bogor tempo dulu |
![]() |
Pasar Bogor tempo dulu |
![]() |
Pembangunan Pasar Bogor tahun 1971 |
![]() |
Bioskop Bogor Theater tempo dulu |
![]() |
Pasar Bogor tempo dulu |
![]() |
Pasar Bogor tempo dulu |
![]() |
Jalan Suryakencana tahun 1981 |
Foto: Gahetna.nl| Tropen Museum | Delcampe.net | UWML
0 Response to "Sejarah pasar pertama di Bogor "
Post a Comment