HIngga kini, menurut Direktur Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya, Ali Yusuf, jumlah pedagang yang telah mendaftarkan diri untuk bisa menggunakan fasilitas di Pasar Devris telah mencapai 40 pedagang dan perajin batu akik yang berasal dari seluruh kawasan Bogor.
"Kita mengakomodir pedagang bisa berjualan selama tiga bulan gratis, sambil melihat-lihat minat dan animo masyarakat yang datang," kata Ali, seperti dilansir dari Antaranews, Minggu (11/1).
Sejak pasar ini diresmikan, sudah ada sekitar 12 pedangan yang telah mengisinya sejak dari awal, salah satunya adalah Muhammad Galih Permana (35), yang memamerkan sekitar 100 batu cincin kepada para pengunjung.
Jenis batu cincin yang dijualnya pun cukup beragam, mulai dari harga yang terendah RP 1juta hingga harga RP 7juta untuk batu yang memiliki kualitas yang tinggi.
"Batu Bacan Dogo ini harganya Rp2 juta, kalau batu rubi ini Rp1.250.000," kata Galih kepada pengunjungnya.
Cincin batu yang dijual oleh Galih berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, seperti batu Rubi berwarna pink yang berasal dari Afrika, juga ada batu yang berasal dari Srilanka.
Hampir semua cincin batu yang dijualnya merupakan koleksi pribadi yang sudah dikumpulkannya sejak masih duduk di bangku SMP.
"Hobi sejak SMP, waktu itu sudah ada 300 batu akik yang saya koleksi," katanya.
Sebelum batu akik "booming" seperti saat ini, Galih hanya mengkoleksi dan menjual secara khusus dengan cara dari teman ke teman bila mendapatkan tawaran harga yang menarik.
Tetapi setelah batu akik menjadi fenomea, Galih mencoba peruntungan untuk berbisnis menjadi penjual batu akik dengan kualitas terjamin serta bersertifikat.
"Saya mengurus sertifikatnya di Bens International Gemological Center khusus untuk batu mulia. Sertifikat ini untuk menjamin kualitas batu orginal," katanya.
Menurut Galih, hobi mengkoleksi batu akik sejak SMP telah membuahkan hasil, kini ia bisa menjual perhiasan batu akik di toko yang permanen, serta memiliki karyawan untuk membuat cincin batu akik.
Untuk mendapatkan pasokan batu, ia juga sudah memiliki jaringan dari berbagai daerah hingga luar negeri, seperti batu dari Afganistan, dan Afrika.
"Kalau stok habis tinggal hubungi jaringan kita bisa datangkan batu-batu yang dipesan," katanya.
Selain Galih, ada sekitar 12 pedagang batu akik yang berjualan di Pasar Devris, tampilan kios mereka berbeda, ada yang hanya menjual batu-batuan saja yang sudah dibentuk, ada juga yang menjual masih dalam bentuk bongkahan.
Tetapi tampilan kios Galih lebih elegan, dia merancang seperti menyerupai toko perhiasan. Tidak hanya menjual cincin batu, ia juga menyediakan perawatan cincin batu serta alatnya.
Perawatan meliputi, kulit gosok biar batu tidak kusam, serbuk intan serta kain poles. Alat perawatan dijual terpisah dengan harga mulai Rp35.000 untuk kulit gosok, dan Rp100.000 untuk serbuk intan.
Menurut Galih, kehadiran Pasar Devris sebagai pusat penjualan batu akik sangat membantu pedagang untuk memulai usahanya. Karena aksesnya dekat dengan masyarakat sehingga mudah dijangkau.
"Dulu kita berjualan dari mulut ke mulut sesama kenalan, kita belum punya toko khusus, hanya menumpang toko pakaian. Sekarang sudah ada kios seperti ini cukup baguslah untuk usaha," kata Cindy Allysa, rekan Galih.
Cindy optimis dengan adanya pusat penjualan batu akik di Pasar Devris dapat memberikan peluang bagi masyarakat membuka usaha menjual batu akik.
Jika dalam waktu tiga bulan para pedagang mendapatkan keuntungan yang wajar, maka merekapun bersedia untuk melanjutkan penyewaan dengan sistem kontrak.
"Kalau pasarnya bagus ya kita akan sewa setelah tiga bulan gratis," katanya.
Tertarik dengan batu akik?, kalau begitu jangan lewatkan tulisan berikut ini:
- Cara merawat batu cincin agar tetap mengkilap
- Tips agar batu bacan cepat kristal
- Kumpulan tips agar batu kalimaya black opal cepat jadi
- Batu bacan, batu hidup yang memiliki banyak khasiat
Mudah-mudahan bukan sekedar trend. Setelah tanaman hias, burung, sekarang batu akik. Entah nanti apalagi.
ReplyDeletePasar Devris yang dulu jadi sudah benar2 tidak ada ya ?