Sejarah dan perkembangan Sunda di Nusantara

Sunda artinya bagus atau baik, dan bisa juga bermakna putih, bersih, atau cemerlang, dalam hal ini segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. 

Masyarakat Sunda dipercaya punya watak maupun karakter tersebut sebagai jelan menuju 'kautamaan hirup'. Watak yang dimaksud adalah bageur (baik), cageur(sehat), bener(benar), singer(mawasdiri), dan pinter(cerdas) yang semuanya sudah ada sajak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larant abad ke-17. Hal itu telah membawa kesejahteraan dan kemakmuran selama lebih dari 1000 tahun. 

Sebuah gambaran mengenai kondisi ibukota Pakuan Pajajaran yang makmur


Nama Sunda sendiri mulai digunakan oleh Raja Purnawarman sejak tahun 397 M untuk menyebutkan daerah tempat berdirinya ibukota Kerajaan yang didirikannya. Bersumber dari prasasti-prasasti dan dari Cirebon menerangkan bahwa Purnawarman berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul yang berada di Pandeglang menjadi bukti bahwa wilayah yang menjadi kekuasaan Purnawarman meliputi pantai Selat Sunda.
 

Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (hal 159-162) pun menyebut bahwa di bawah kekuasaannya (Purnawarman) ada 48 raja-raja daerah yang  terbentang dari Salakanegara atau Rajatapura (kawasan Teluk Lada Pandeglang) hingga ke Purwalingga (Porbolinggo) Jawa Tengah. Secara tradisi, Cipamali (Sungai Brebes) masih dianggap sebagai batas wilayah kekuasaan penguasa Jawa Barat pada masa silam. 

Wilayah kerajaan Sunda yang meliputi sebagian Jawa Tengah
Seiring berjalannya waktu, Sunda menjadi sebuah kebudayaan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa yang kemudian tersebar hingga ke penjuru dunia. Sebagai suku, bangsa Sunda ini pun menjadi cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, yang dimulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indoensia yakni Kerajaan Salakanagara, Tarumanegara, Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang

Sesuai watak masyarakat Sunda yang telah tercipta sejak dahulu, Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya.  Bahkan keturunan-keturunan dari Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan-kerajaan besar yang berdiri di berbagai daerah di Nusantara, yatu Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dan sebagainya. 

Kronologi sejarah Sunda

Keberadaan Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, menjadi sebuah petunjuk bahwa ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Itu artinya, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa bisa dilihat dari kedudukan Rajatapura atau Salakanagara (Kota Perak) yang pada tahun 150 M disebut Argyre oleh Ptolemeus. Kota ini hingga tahun 362 menjadi sebuah pusat pemerintahan raja-raja Dewawarman, dari Dewawarman I - VIII.
 

Menurut naskah Wangsakerta, Kerajaan Sunda (669-1579M) adalah sebuah kerajaan yang dibangun untuk menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda atau tahun 669 M. Menurut sumber sejarah yang berasal dari abad ke-16, Kerajaan Sunda mempunyai kekuasaan yang mencakup wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah. 

0 Response to "Sejarah dan perkembangan Sunda di Nusantara"

Post a Comment