Ada banyak versi yang beredar mengenai raibnya istana Pajajaran yang dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi itu. Ada yang menyebut bahwa istana Pajajaran telah dibumihanguskan oleh pasukan Banten pimpinan Syekh Maulana Yusuf ketika menyerang Pakuan pada tahun 1579, dengan alasan untuk mengakhiri masa Pajajaran sekaligus menumpas agama Sunda Wiwitan, mengingat misi Syekh Maulana waktu itu untuk memperluas pengaruh Islam.
Bahkan untuk mengakhiri dinasti Pajaran, batu Palangka Sriman Sriwacana yang biasa digunakan untuk menobatkan Raja baru Pajajaran diboyong ke bSurasowan Banten.
Batu berpemukaan rata dan mengkilap itu berukuran panjang 200 cm, lebar 160 cm, dengan ketebalan 20 cm itu hingga kini bisa dilihat di depan bekas keraton Surasowan yang terletak tidak jauh dari Masjid Agung Banten. Masyarakat Banten menyebut batu tersebut dengan sebutan Watu Gigilang yang artinya batu mengkilat, meski secara harafiah gigilang itu sama artinya dengan Sriman.
Sedangkan versi lain yang cukup umum dari mulut ke mulut adalah bahwa Istana Pajajaran "ngahiyang" menghilang atau dihilangkan dari pandangan mata manusia ketika terjadi serbuan dari bala tentara Banten. Cerita inilah yang cukup popular dan masih berkembang hingga saat ini.
Kemungkinan besar letak istana Pajajaran berada di Bogor, terlebih banyak catatan dan naskah-naskah kuno Nusantara yang mengaitkan Bogor sebagai Pakuan Pajajaran yaitu ibukota dari Negeri Sunda atau Bumi Pasundan.
Walaupun letak pasti istananya sendiri tidak ditemukan, namun kita masih bisa menyaksikan kemegahan dan kehebatan Istana Pajajaran yang dibangun pada tahun 923 oleh Sri Jayabhupati melalui beberapa prasasti, salah satunya adalah prasasti Batutulis.
![]() |
| Het Gezigt van Bato Tulis , Johannes Rach, 1770 M; [rijksmuseum.nl] |
Prasasti Batutulis menguatkan kaitan erat antara kerajaan Pajajaran dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya di Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan sunda, Kerajaan Galuh, dan Kawali. Bisa dibilang pemerintahan Kerajaan Pajajaran ini adalah kelanjutan dari kerajaan-kerajaan tersebut.
Batutulis juga memperkuat dugaan bahwa istana Pajajaran terletak di Bogor, karena lokasi Batutulis itu sendiri menjadi tempat penobatan atau pelantikan raja-raja Pajajaran.
Di dalam situs Batutulis yang memiliki luar kuranglebih 17x15 meter itu kita akan menemukan prasasti Batutulis di dalam pendopo, dan juga sejumlah batu artefak lainnya yang terdiri dari beragam bentuk dan susunannya.
Artefak Batutulis yang berbentuk mirip segitiga itu terdapat sembilan baris tulisan aksara sunda kuno, yang berbunyi :
Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu hajj di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyanl sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi.
Yang jika diterjemahkan adalah kuranglebihnya :
Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida , membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka ‘Panca Pandawa Mengemban Bumi’
Yang dimaksud dengan hutan Samida adalah kawasan hutan yang kini menjadi Kebun Raya Bogor, sedangkan Panca Pandawa Mengemban Bumi bermakna sangkala yang artinya 5541 atau kalau dibalik adalah 1455 Saka atau tahun 1533 Masehi.
DI hadapan Batutulis terdapat tiga onggok batu berukuran kecil. Di barisan pertama, persis di depan batu tulisa ada lobang yang berbentuk segitiga, sedangkan di tengah berbentuk dua telapak kaki manusia, sedangkan pada barisan selanjutnya tidak terdapat bekas apa-apa.
![]() |
| Situs batutulis tahun 1980 dan sekarang |
Di samping batu bertulis itu, ada batu yang berbentuk panjang lonjing yang sering juga disebut dengan Lingga Yoni yang melambangkan laki-laki dan perempuan, atau merupakan simbol kemakmuran dan kesuburan.




0 Response to "Batu Tulis tempat penobatan raja-raja Pajajaran"
Post a Comment