![]() |
Sungai Cipakancilan yang membelah Ponduk Rumput dan Cimanggu dilhat dari udara tahun 1948 |
Pondok Rumput adalah sebuah nama sebuah perkampungan yang terletak tidak jauh dari pusat kota atau Istana Bogor. Tidak jauh dari Pondok Rumput ada beberapa perkampungan yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang cukup dalam dengan airnya yang jernih. Sungai tersebut bernama Cipakancilan yang konon katanya mengambil dari kata hewan kancil atau peucang yang pada jaman dahulu banyak ditemukan di Bogor dan sering bermain di sekitar sungai tersebut.
![]() |
Cipakancilan tahun 1870 |
Cipakancilan adalah bagian dari aliran Sungai Cisadane, sedangkan Cisadane merupakan bagian dari Sungai Ciliwung yang dipisah oleh Dam yang berada di Kampung Babadak Tajur. Keberadaan sungai-sungai ini dipercaya telah ada sejak masa kejayaan Prabu Siliwangi yang memerintah di Pakuan Padjadjaran sejak tahun 1482 hingga 1521.
Kisah Buaya buntung ini dimulai dari sebuah tempat di antara Kampung Cimanggu Rw 5 dengan Kampung Pondok Rumput yang dihubungkan oleh sebuah jembatan.
Berbeda dari kondisi sekarang yang keruh, dangkal dan kotor oleh sampah, Cipakancilan dulunya merupakan aliran sungai yang sangat jernih, tenang dan lebar sekali. Penduduk sekitar sungai pun sering memanfaatkan sungai yang jernih ini untuk berbagai keperluan, mulai dari mandi, berenang, mencuci, serta mencari ikan.
Di pinggir kali terdapat mushola sehingga banyak orang yang sering menggunakan aliran sungai ini sebagai tempat untuk mandi sekalian bersembahyang. Selain mushola di tempat itu terdapat juga sebuah rumah yang dihuni oleh Ki Mursin.
Ki Mursin tinggal bersama istrinya yang bernama Ni Endu dan selama ini kehidupan mereka selalu rukun meski sifat keduanya berbeda jauh. Ki Mursin dikenal sebagai orang yang penyabar dan pendiam, sedangkan sang isteri mempunyai sifat yang pemarah, bawel, ketus, dan selalu mengeluh.
Pekerjaan Ki Mursin sehari-harinya adalah penebang pohon yang pada waktu itu profesi tersebut tentu tidak setiap hari dibutuhkan. Alhasil Ki Mursin jarang membawa uang untuk keperluan rumah tangganya, meski ia telah berkeliling dari kampung ke kampung mencari orang yang mau menggunakan jasanya untuk menebang pohon.
Meski begitu rumah tangga keduanya tidak pernah merasa kekurangan, sehingga mereka jarang sekali bertengkar. Namun yang pasti keduanya sangat menginginkan dikaruniai seorang anak, atau bahkan dua orang anak atau lebih. Bagi mereka keluarga tanpa ada anak tentu kurang lengkap, apalagi mempunyai keturunan itu adalah salah satu kepercayaan dan sebagai titipan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Meski sang isteri terus berharap memiliki anak pada suaminya, namun tidak berarti sang suami tidak melakukan apa-apa, Ki Mursin sadar bahwa semua ini sudah kehendak Illahi. Ki Mursin memang orang yang sabat, berbeda dengan isterinya yang terus berharap agar bisa mempunyai anak meski ia sadar bahwa fisiknya mulai lemah, tua dan renta. Sudah berbagai macam ramuan, jampi-jampi bahkan pepatah orang pun ia lakukan hanya untuk mendapatkan keinginannya yaitu seorang anak.
Karena terlalu tertekan dengan keinginan yang tidak pernah didapatkannya, Ni Endu pun mulai tergoncang, tingkah lakunya mulai berubah menjadi kasar dengan tutur kata yang sombong, suka menyumpah dan takabur. Sang suami hanya pasrah saja menyaksikan kondisi tersebut.
Allah SWT ternyata tidak diam saja, pada suatu hari Ni Endu merasakan perutnya sangat mual ketika terbangun di pagi hari. Hal yang sama juga dirasakannya pada esok harinya bahkan berikutnya perasaan mual itu semakin sering menyerangnya. Ternyata oh ternyata, etelah diperiksa oleh paraji (Dukun beranak) Ni Endu tengah mengandung!.
Sontak saja hal tersebut membuat Ni Endu dan suaminya merasa girang bukan kepalang. Mereka seolah mendapatkan semangat hidup, Ki Mursin kini lebih rajin dan bersemangat dalam mencari nafkah sebagai seorang penebang pohon, dan bukan itu saja Ki Mursin kini merambah profesi barunya yaitu tukang dan mencari rumput. Selain itu Ni Endu yang tadinya sering mengeluh dan suka melamun itu pun kini menjadi seorang nenek yang sangat ceria dengan kebahagiaan yang terpancar dari raut mukanya.
Bulan demi bulan telah berlalu dan pasangan suami itu pun tidak mempedulikan jenis kelamin anaknya yang akan lahir nanti, yang penting bagi mereka adalah seorang anak yang bisa dirawat, digendong, dan yang bisa diajaknya bercanda untuk memecah keheningan malam dan kesepian Ni Endu ketika sang suami pergi mencari nafkah.
Bulan ke sembilan pun sudah tercapai dengan kandungan Ni Endu yang semakin membesar. Di tengah dinginnya udara malam, Ibu Ea yang berprofesi sebagai paraji berada di dalam kamar Ni Endu yang kini tengah dalam proses melahirkan. Namun betada terkejutnya Ibu Ea ketika mengetahui sosok yang diangkatnya dari rahim Ni Endu tidak mirip bayi manusia, namun wujudnya seperti tokek hanya saja tidak bersisik. Anehnya lagi tidak terdengar suara tangisan bayi yang terdengar hanya suara Ki Mursin dan Ibu Ea yang tak henti-hentinya mengucapkan takbir dengan memuji kebesaran Sang Khalik.
Ki Mursin memang tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah kepada yang Kuasa bahwa ia dan isterinya telah dianugerahi seorang bayi meski dalam bentuk dan sosok lain.
Pag harinya, setelah kepulangan Ibu Ea banyak tetangga dan sanak saudara yang berkunjung ke rumah Ki Mursin dan Ni Endu untuk memberi selamat atas kelahiran bayi yang selama ini mereka idam-idamkan. Namun setelah melihat kondisi bayinya itu banyak tamu-tamunya yang berucap lirih menyebut kebesaran Allah. Kabar mengenai Ni Endu yang melahirkan bayi yang lain dari yang lain itu pun menyebar ke seluruh kampung.
Bayi yang masih merah itu pun masih terbungkus kain panjang dan belum tampak bergerak-gerak, namun setelah beberapa hari barulah bayi itu mulai menggeliat. Seiring dengan itu pada malam harinya Ki Mursin dan Ni Endu bermimpi bayi yang dilahirkannya itu meminta agar disimpan dalam sebuah bak air yang terbuat dari tanah liat. Dalam mimpinya itu keduanya mendengar suara yang berpesan agar tidak bersedih karena itu sudah kehendak Illahi.
Esoknya Ki Mursin menceritakan mimpinya itu pada isterinya, dan ternyata sang isteri pun mengalami mimpi yang sama.
Di hari ketujuh, Kedua pasangan suami isteri itu pun kembali bermimpi, kali ini si bayi meminta agar diceburkan ke sungai Pakancilan. Namun sebelum dilepaskan di sungai ia ingin agar buntutnya nanti dipotong. Selain itu dalam mimpinya itu si bayi itu pun mengatakan pada orang tuanya kalau merasa rindu atau memerlukan bantua maka mereka tinggal memanggilnya dengan nama "si Buntung".
Meski merasa sedih karena harus berpisah dengan bayi yang belum lama dimilikinya itu, pasangan suami isteri itupun menyanggupi dan bersedia melakukan apa-apa yang diamanatkan dalam mimpi-mimpinya itu.
Setelah meletakkan sang bayi dalam bak yang berisi air, tangan Ki Mursin mulai memotong ekor yang terdapat dari tubuh bayi tersebut. Dengan perasaan haru bercampur sedih, Ki Mursin dan Ni Endu melepaskan si Buntung ke sungai Pakancilan. Si bayi itu pun tampak menggeliat dan mulai bergerak seperti sedang berenang dan lalu meghilang dari pandangan.
Sejak kejadian tersebut , hubungan antara anak dengan orang tuanya hanya dilakukan lewat mimpi-mimpi saja. Sosok si Buntung dalam mimpinya hadir dalam bentuk sempurna sebagaimana seorang anak manusia pada umumnya. Hal itu membuat Ki Mursin dan istrinya tidak bersedih lagi, malah mereka menganggap telah diberi keistimewaan oleh Yang Maha Kuasa.
Waktu pun terus berlalu, si buntung tetap hadir dalam mimpi-mimpi mereka sebagai seorang anak lelaki yang lucu yang mengenakan pakaian putih dan berkopiah. Sedangkan dalam dunia nyata si buntung yang dalam bentuk fisik sebagai buaya itu pun sering menampakkan dirinya pada penduduk sekitar, namun sesuai dengan amanat Ki Mursin pada para penduduk yang kebetulan menjumpai si buntung dalam bentuk buaya yang menakutkan, maka mereka cukup berkata, "Butung jangan ganggu," maka ia apun akan mengerti.
Hal itu juga yang dialami oleh seorang penduduk yang ketika hendak pergi ke sungai ia melihat seekor buaya, namun ia kemudian berkata, "Buntung pergi jangan di sini, kalau mau berjemur di sana saja" sambil menunjuk ke seberang sungai. Sehabis berkata hal itu, buaya itu pun menghilang dan tidak berapa lama kemudian di seberang sungai ditempat yang ditunjuk oleh orang itu tampak ada seorang laki-laki berpakaian putih sedang duduk di pinggiran sungai.
Dalam kisah yang lain disebutkan kalau si Buntung sering bertarung dengan buaya pendatang, dan sering berkelana ke Ciliwng Cisadane, Citarum bahkan sampai ke Cimandiri di Pelabuhan Ratu Sukabumi. Bahkan ada yang percaya kalau saat ini si buntung kini menghuni salah satu sungai yang melintasi Kota Jakarta.
![]() |
Sungai Cipakancilan | Foto: Flicker/ Hadi Prakarsa |
Meski cerita mengenai si buntung ini masih tetap menjadi cerita turun temurun namun sudah tak pernah lagi muncul berita mengenai penampakan buaya di sungai Cipakancilan. Apalagi dengan kondisi sungai seperti sekarang yang kotor, dangkar, dan penuh oleh sampah.
Si buntung akan tetap menjadi legenda dan misteri tersendiri bagi kalangan yang meyakini keberadaannya. Urban legend itu akan tetap ada selama masih ada yang menceritakan kisahnya itu.
Semoga bisa mengambil hikmahnya.
Sumber dan referensi:
Google.com
Perjalananpajajaran.blogspot.com
Wikipedia
Sumber online dan offline
0 Response to "Si Buntung, kisah Urban Legend dari Cimanggu"
Post a Comment