Di Bogor pada zaman dahulu, terdapat sebuah negeri kecil yang sangat terkenal dengan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Selain karena tanahnya yang memang cukup subur, makmurnya negeri itu karena campur tangan dari raja negeri terebut. Raja yang dianggap arif, bijaksana dan penuh perhatian oleh rakyatnya.
Sang Raja itu memiliki seorang anak perempuan yang cantik jelita yang bernama Putri. Meski cantik namun Putri tidak memiliki sifat takabur ataupun sombong, ia justru sangat rendah hati dan senang menolong. Kecantikan paras dan hatinya itu mampu membuat banyak pangeran jatuh hati, namun apa daya tak seorang pun berhasil menaklukan hati sang Putri.
Setiap kali ada pangeran yang mendekati dan memintanya untuk jadi pasangan, Putri menolak dan hanya menganggap pangeran-pangeran itu sebagai kakaknya saja. Ternyata juga, tidak semua pangeran bisa menerima penolakan tersebut, salah seorang pangeran bahkan merasa tersinggung dan berniat membalas sakit hatinya itu. Pada para pengawalnya , pangeran itu meminta dicarikan orang yang bisa mencelakakan sang Putri. Setelah mendapatkan yang ia cari, Pangeran itu pun berangkat menemui Putri dan berpura-pura setuju atas keinginan Putri yang memintanya sebagai kakak saja. Mendengar hal tersebut , sang Putri merasa senang tanpa mengetahui maksud jahat di balik niat sang Pangeran.
Kepada orang tua Putri, pangeran itu berkata akan melindungi Putri dan negerinya dari segala maksud jahat, karena telah diketahui bahwa Putri banyak menolak para pangeran sehingga ia takut ada yang berniat jahat kepada sang Putri, karena itu ia membawa seorang ahli tolak bala.
Ayah Putri tentu saja setuju dengan maksud pangeran jahat tersebut untuk meminat bantuan ahli tolak bala yang sebenarnya adalah tukang sihir jahat. Dengan manteranya, si tukang sihir itu mulai memanterai sang Putri, dan secara tiba-tiba mengepul asap tebal yang menyelimuti siapapun yang berada di situ, kecuali si penyihir, pangerah jahat dan para pengawalnya.
Setelah puas melakukan aksi balas dendamnya, pangeran jahat itu pun bersiap untuk pulang. Namun entah darimana datangnya, tumbuh ratusan pohon besar di antara pangeran dan rombongannya. Alhasil mereka semua terkurung dan tidak bisa keluar dari pepohonan itu. Setiap malam tiba, di wilayah itu selalu mengeluarkan hawa dingin yang tidak seorang pun mampu menahan hawa dingin tersebut.
Daerah tempat meninggalnya sang Putri dan keluarganya, serta pangeran jahat dan rombongannya itu kemudian dikenal dengan sebutan Gunung Putri. Selain karena letaknya yang tinggi dan menyerupai gunung, pada saat-saat tertentu warga desa di sekitar Gunung Putri selalu mengadakan upacara pemberian sesaji untuk sang Putri. Konon kabarnya, sang Putri pernah muncul dan menampakkan diri pada saat penduduk desa itu tengah dilanda kesulitan pangan, dan setelah kemunculannya itu, Desa itu kembali makmur dengan pangan yang berlimpah.
Selain cerita rakyat di atas, terdapat cerita lain yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi dan Pajajaran.
Daerah Gunung Putri pada masa lampau sering menjadi tempat pertapaan para raja dari Pakuan Pajajaran, karena di sini juga terdapat makam nenek Prabu Siliwangi, yaitu Nyi Kentring. Menurut salah seorang tokoh spiritual masyarakat Kranggan, Olot Entam, setiap bulan Maulud, makam Nyi Kentring banyak diziarahi oleh ribuan orang yang datang dari berbagai pelosok. Para penjiarah yang terdiri dari Muslim, Khong Hu Cu, dan Budha itu bercampur baur menjadi satu
Masyarakat Gunung Putri dan budaya masa lalu
Masyarakat Kranggan Gunung Putri sering dianggap sebagai komunitas dalem, sedangkan Kranggan Cibubur dianggap sebagai komunitas luar. Baik di Kranggan Gunung Putri maupun di Kranggan Cibubur, para pemimpin spiritual memiliki gelar 'olot' dari kata "kolot (tua)'. Olot inilah yang akan memimpin upacara spiritual di pemakaman, dan sering memberikan pituah setiap malam Jum'at.
Dalam setiap acara pituah, para pengunjung diwajibkan mengenakan iket. Menurut Olot Entam, dengan mengenakan iket kepala yang terbuat dari stangan batik itu artinya sudah teriket. Olot di Kranggan pada masa sekarang adalah Olot Gucong dan Olot Lame, jabatan olot ini biasanya diwariskan turun temurun.
Di masa lampau, olot bisa disamakan dengan resi. Sebagai pemimpin spiritual, baik olot maupun resi sama-sama menjalankan aktivitasnya, salah satunya adalah bertani. Di bawah olot terdapat kuncen, dan kuncen ini adalah orang yang memimpin Ziarah.
Dalam sistem kepercayaan masa lalu, ziarah merupakan suatu bentuk hubungan manusia masa kini dengan arwah masa lampau, agar arwah si jenat - anggota keluarga yang meninggal - tetap berada dalam lindungan keluarga yang masih hidup, itulah kenapa masih banyak makam keluarga yang umumya berlokasi di halaman atau belakang rumah.
Sumber-sumber kepercayaan tersebut diduga kuat berasal dari Pasir Angin. Ada banyak petunjuk yang mengungkapkan bahwa di Pasir Angin juga terdapat banyak komplek pemakaman. Karena umumnya orang-orang yang dimuliakan akan dimakamkan dekat menhir, seperti yang banyak ditemukan di Sumatera.
Bandul yang ditemukan di Pasir Angin memiliki fungsi sebagai piranti upacara keagamaan, meski bandul tersebut hanya dikalungkan sebagaimana perhiasan wanita. Bandul yang mirip dengan yang ditemukan di Pasir Angin uga menjadi salah sato ornamen penari dari Topeng Betawi. Hal ini bisa menguatkan dugaan bahwa tari-tari tradisional itu pada mulanya adalah bagian dari sebuah ritualisme.
0 Response to "Cerita masa lalu dari Gunung Putri"
Post a Comment