Tempat tersebut adalah Gelanggang Pacuan Kuda atau orang-orang londo menyebutnya sebagai Renban. Gelanggan pacuan kuda ini terletak di wilayah Tanah Sareal, yang dipisahkan oleh Bataviascheweg (JL Jakarta/Jl Ayani) dan Tjileboet weg (Jl Cilebut/Jl Pemuda).
Lokasinya yang strategis karena dekat dengan Istana Bogor, Hotel Dibbets dan Stasiun Bogor membuat kawasan ini cukup dikenal oleh pejabat-pejabat pemerintahan Hindia belanda waktu itu, baik yang berada di Buitenzorg, Batavia maupun di kota-kota lainnya. Bahkan tak jarang, mereka sering membawa kuda-kuda jawaranya untuk unjuk kebolehan di hadapan sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menonton dari tribun istimewa.
Setiap kali diselenggarakan lomba pacuan kuda, maka seluruh jalanan akan dihiasi oleh bendera atau umbul-umbul terutama di sekitaran Grote weg yang memang menjadi jalan utama menuju Bogor. Acara tahunan yang meriah tersebut akan menjadi sebuah pesta besar bagi masyarakat Bogor tempo dulu, terutama warga yang tinggal di sekitar Renban tersebut.
Banyak warga akan berdatangan, meski tujuannya tidak menonton perlombaan tetapi lebih kepada menyaksikan keramaian, banyak orang tua yang membawa serta anak-anaknya untuk dimanjakan dengan beragam jajanan yang dijajakan oleh para pedangan di sekitar lapangan. Bahkan kemungkinan pula di tempat tersebut diramaikan dengan beragam hiburan keluarga seperti korsel (Carousel) atau komedi putar.
![]() |
Carousel (Komedi putar) tempo dulu : ilustrasi |
Sejak tahun 1964 - 1970, kegiatan lomba pacuan kuda di Tanah Sarel ini sangat padat, bahkan sebelum Lapangan Pacuan Kuda di Pulomasa Jakarta diperbaiki, Tanah Sareal sering mendapakan acara-acara pacuan kuda nasional. Waktu itu, seringsekali para pecinta kuda pacu, terutama yang berasal dari Bogor, Bandung, Manado, Sumbawa, Sumatera Utara, Padang, dan kota-kota lainnya di Indonesia ikut serta membawa kuda-kuda kebanggaan mereka untuk menampilkan kemampuannya berpacu di lapangan di hadapan warga Bogor. Lomba pacuan kuda skala nasional pernah diselenggarakan di Tanah Sareal pada tanggal 12 - 13 November 1966. Waktu itu, kuda yang menjadi juara bernama Diana, milik Pak Harto.
Saat itu, Walikota Bogor yang sangat mendukung kegiatan pacuan kuda di Tanah Sareal adalah Bapak Ahmad Sham yang juga sangat menyukai kuda, sampai-sampai oleh masyarakat Bogor saat itu, beliau dijuluki Walikuda.
Video saat berlangsungnya balapan kuda di renbaan buitenzorg
Beberapa tahun kemudian, lapangan pacuan kuda itu dibenahi menjadi komplek olahraga stadion Pajajaran sampai sekarang, tidak ada yang tersisa kecuali bekas-bekas istal yang masih membekas di dalam area Dinas Kesehatan Kota (DKK).
Berikut beberapa foto-foto keramaian suasana ketika berlangsungnya even lomba pacuan kuda pada tempo dulu.
0 Response to "Meriahnya lapangan Pacuan Kuda Tanah Sareal Tempo dulu"
Post a Comment